Lingkungan Kritik Arsitektur
Sebelum kita menjelaskan tema tersebut, marilah kita perhatikan
definisi dari masing-masing kata tersebut
Definis Kritik
Kritik ialah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu
dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu
memperbaiki pekerjaan. (wikipedia)
Definisi
Arsitektur
Arsitektur ialah seni yang dilakukan oleh setiap individual untuk berimajinasikan diri
mereka dan ilmu dalam merancang bangunan.
Kritik Arsitektur
Kritik Arsitektur ialah masalah penganalisaan dan pengevaluasian
sesuatu dengan tujuan meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi atau
membantu memperbaiki pekerjaan dalam hal ilmu bangunan yang terkait
Kritik Arsitektur : Lingkungan (Setting) kritik Arsitektur
Lingkungan kritik arsitektur ialah rona atau situasi dimana
kritik biasanya langsung. Secara garis besar dapat dikondisikan menjadi : Self (diri), Authority (yang berwenang) Expert ( pakar) Peer (kelompok ) , dan Layman (orang awam).
Kritik Diri (Self Criticism)
·
Kritik diri merupakan situasi
dimana perancang atau pembuat keputusan mengkritisi dirinya sendiri dalam proses perancangan.
Kritik model ini memusatkan perhatian pada pengkayaan pikiran diri. Dengan ini
diharapkan kritikus dapat lebih banyak mempelajari dan mengembangkan berbagai fenomena yang muncul
dalam situasi dan hukum-hukum perancangan.
·
Kritik diri merupakan kerja
yang otoritasnya merupakan komposisi dari beberapa kegiatan :
1. Penggabungan ( Labour of Combining )
2. Penyusunan ( Labour of Constructing )
3. Penghapusan ( Labour of Expunging )
4. Pembetulan ( Labour of Pengayaan/Penyaringan ( Labour of
Shifting )
5. Correcting )
6. Pengujian ( Labour of Testing )
·
Seorang artis dalam pekerjaan
keseniannya ia tidak cukup sekadar menjadi dirinya. Dia harus berfungsi dan bertindak sebagai
dua orang setiap saat dan dalam berbagai cara. Satu sisi ia berlaku sebagai penghayal (imaginer)
dan pembuat (producer) tetapi pada sisi lain ia juga kritikus (Shan,1957)
·
Setidaknya ada lima
suara (bisikan) yang secara psikologis menyertai diri ketika dihadapkan dalam
usaha
memecahkan proses perancangan, yaitu :
+ Suara
Keharusan ( The Should Voices )
·
Ada dua suara keharusan (should
voice) yang mencoba meyakinkan diri untuk melakukan ini atau itu.
·
Suara yang berwenang (authority
voices) mengatakan pada diri bahwa diri naïf dan tidak kompeten dan menyatakan bahwa
diri harus lebih baik lagi;
·
Suara umum (peer voice)
mengatakan bahwa kita professional dan harus mempertanggungjawabkannya.
Secara psikologis should (keharusan akan) dalam suara bisikan ini telah menjadi
“obsesi neurotic”. Semua ini berkecamuk di sekeliling diri selama berlangsungnya proses berkarya.
Rujukan dari suara keharusan mengacu pada prinsip-prinsipmoral tertentu yang
harus dipertimbangkan dalam diri.
+ Suara
Ketakutan (Thefearvoice) Ada dua suara ketakutan
·
Ketakutan pada Kegagalan ( Fear
of Failure ) Adakalanya ketika kritik telah kita lontarkan tiba-tiba diri
merasa bahwa diri tidak mampu bertindak semuanya. Apa yang dilakukan terasa salah dan akan
gagal. Diri ditempatkansedemikian rupa dalam kebenaran yang lain yang lebih
terpercaya. Ketakutan pada kegagalan menyeruak ketika diri dapat
mengantisipasi suara petuah dan suara umum dan juga tahu bahwa mereka benar. Yah..karya
diri tidak terlalu baik atau…diri harus menghentikannya.
·
Ketakutan pada
Kesuksesan ( Fear of Success ) Jika diri sukses dalam tugas, maka sukses akan membawa
tanggungjawab baru, standard yang lebih tinggi dan tuntutan performa yang lebih baik lagi ke
depan.
+ Suara peringatan (The Cautionary voice) Suara peringatan mengklain lebih mengetahui diri dari pada diri saya
sendiri. Suara-suara itu ditemukan dalam serapan pengalaman dan kemampuan
internal.
Kritik yang Berwenang (The Authoritative Setting)
·
Sumber kritik otoritas adalah
kekuatan yang melekat dalam posisi social. Hubungan secara hirarkis individu dengan pembuat
keputusan dan penentu kebijakan.
·
Dalam kasus yang sama adalah
dasar-dasar kritik yang berlangsung dalam situasi pendidikan studioperancangan.
Sekalipun dalam banyak model pendidikan sebagaimana di Beaux Art Guru dipandang sebagai partner dalam proses
pembelajaran. Ada juga dalam model pendidikan kontemporer yang masih memandang guru secara
structural memiliki kepekaan untuk menyukai individu tertentu sebagai sebuah figure yang semi
otoriter.
·
Terdapat beberapa kesulitan
dalam kritik yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas (John Wade, 1976):
·
Peran juri yang berlaku sebagai
pihak yang memiliki otoritas menghakimi tetapi juga memiliki kekauasaan instruksional.
·
Adanya fleksibelitas dalam
menetapkan nilai kritik yang dilancarkan- dimana kritikus merespon pada fakta projek yang sedang
dipresentasikan.
·
Keputusan dipengaruhi oleh
situasi yang beragam yang dihadapi masing-masing pendidikan, keputusan yang dilakukan secara
acak terinspirasi dari solusi yang datang berdasarkan pengaruh jaman. Tidak ada kualitas nilai yang
secara eksplisit tertuang dalam setiap keputusan.
Kritik Pakar (Expert Criticsm)
·
Kritik pakar dipandang tidak
memiliki kekuatan yang spesifik melampaui apa yang dikritiknya. Dampaknya sangat bergantung
pada kesan-kesan yang lain yang berkait dengan pengetahuan secara khusus dan kemampuan
internalnya.
·
Kritik biasanya berupa tulisan
popular yang dimuat di media massa. Pakar dalam hal ini biasanya adalah orang-orang jurnalis
yang memiliki kepekaan untuk membuat paparan dan pengumpulan fakta-fakta. Melalui berbagai perangkat
pengalamannya mereka mendemonstrasikan kemampuan pemahamannya tentang isu-isu yang berkaitan
dengan desain lingkungan.
·
Dua bentuk kritik pakar : Kolom
umum dan Berita palsu. Kolom umum biasanya berupa tulisan
yangdikarakteristikkan sebagai berita pembentuk opini yang memiliki tendensi
pengajuan karakteristik tertentu yang diinginkan. Berita Palsu, menyajikan samaran dari
sebuah berita dan upaya advertensi (pengiklanan).
·
Adakalanya kritikus pakar juga
menuai kritik antara lain, sebagaimana ditulis oleh Ada Louise Huxtable : Yang terhormat Tuan Kritikus :
Artikel anda tentang arsitektur sungguh mengindikasikan bahwa anda kurang memiliki
kepekaan rasa. Arsitektur terlalu penting untuk dibiarkan kepada para kritikus arsitektur.
Kritik Kelompok (Peer Criticism)
Kebanyakan lingkungan masyarakat dan institusi tertentu dalam
kritik kelompok (peer criticism) tentang arsitektur adalah juri penghargaan
desain. Dalam hal ini arsitek professional mengevaluasi dan memberikan
pengetahuan khusus tentang desain yang dibawa oleh para professional. Institusi
lain dalam kritik kelompok adalah buku atau artikel yang ditulis oleh para
arsitek tentang arsitek-arsitek lain.
Beberapa kriteria kualitas yang biasanya menjadi poin-poin evaluasi dalam kritik kelompok :
1. Bangunan harus memiliki konsep
2. Bangunan harus mencerminkan keteraturan struktur
3. Bangunan harus menghargai dan respek terhadap lingkungan
4. Ruang harus peka terhadap emosi lingkungan
5. Sangat disarankan untuk menggunakan teknologi yang dipersyaratkan
6. Bangunan harus memiliki makna dan ruang yang selalu bisa
diingat…..dll.
Kritik Awam (Layman Criticsm)
·
Awam lebih diarahkan pada
pengguna lingkungan fisik yang :
1. Tidak menyadari bahwa lingkungan fisik diciptakan
2. Tidak secara khusus dilatih sebagai desainer dan kritikus.
·
Beberapa kategori dasar
respon awam dalam memandang arsitektur :
1. Perhatian terhadap Lingkungan
2. Perilaku terhadap lingkungan antara desain dan kebutuhan kondisi
lingkungan yang diinginkan
3. Modifikasi terhadap lingkungan :
·
Yang tidak disadari
·
Yang disadari
(improvement/perbaikan).
·
Yang disadari
(destruksi/penghancuran)
Comments
Post a Comment